DANA HALAL vs DANA HARAM

Oleh KH. Luthfi Bashori

Sayyidina Abu Hurairah menerangkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apabila Allah menghendaki kebaikan terhadap seorang hamba, maka Allah akan menjadikan kekayaan ada pada dirinya, sedangkan ketakwaan berada di dalam hatinya. Namun apabila Allah menghendaki keburukan terhadap seorang hamba, maka Allah akan menjadikan kemiskinan berada di hadapan matanya.” (HR. Imam Hakim).

Orang kaya yang diberinya petunjuk dan taufiq untuk selalu bersyukur kepada-Nya, adalah termasuk orang yang sangat beruntung. Karena ia sudah diberi kenikmatan di dunia, jika ia pandai, maka kekayaannya itu akan dipergunakan untuk bekal menuju kehidupannya kelak di akhirat.


Banyak orang yang mengatakan, bahwa harta benda itu tidak akan dibawa mati. Tapi tak jarang adanya orang kaya yang mampu berpikir positif demi kemashlahatan akhirat, mereka berkeyakinan, bahwa harta miliknya akan dibawa mati.


Adapun caranya, dengan berusaha sebanyak-banyaknya untuk menginfaqkan harta yang melimpah itu demi kepentingan agama Islam. Misalnya ikut menyumbang pembangunan pesantren, ikut berinfaq saat ada renovasi masjid, tidak pelit terhadap kalanghan fakir miskin, dan sangat dermawan terhadap pendanaan bagi segala hal yang terkait dengan perjuangan umat Islam.


Jika orang kaya itu menjadi hamba yang bersyukur, berarti ia rela dengan apa yang diberikan oleh Allah kepadanya, dan menjadilah ia sebagai orang yang kaya diri, hatinya tidak terikat dengan harta yang dimiliki, hingga dirinya menjadi figur yang dermawan.


Apabila orang tersebut bersyukur kepada Allah, berarti di dalam hatinya telah tertanam rasa taqwa kepada Allah, karena kedua hal tersebut berkaitan erat sekali, sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Karena itu bertakwalah kepada Allah, agar kalian mensyukuri (nikmat)-Nya.” (QS. Ali ‘Imran).


Akan tetapi sebaliknya, jika Allah menghendaki keburukan bagi seorang hamba, niscaya Allah akan menjadikan orang tersebut tidak pandai bersyukur. Sekalipun Allah telah memberinya rezeki yang banyak, ia tetap merasa tidak pernah puas dengan apa yang telah dimiliki, sehingga jadilah ia sebagai orang yang miskin diri dan tidak pernah puas dengan rezeki halal yang dimilikinya.


Mata dan hatinya hanya dipergunakan untuk meraup harta, harta dan harta. Ia pun tak peduli apakah yang dikejar itu harta halal atau harta haram. Bahkan segala cara pun akan ia tempuh.


Mau korupsi, merampok, menilap, money laundry, merebut harta syubhat, terima uang sogokan, bangga dengan ‘hadiah’ uang dari pihak kaum kafir musuh Islam atau dari pihak penganut aliran sesat dan lain sebagainya. Orang yang seperti ini, kelak saat mati akan berbau busuk, sebusuk perilakunya.

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post