TERJEMAH KASYIFATUSSAJA Syarah Safinatun Naja (Pembahasan ke-165)

Karya Syekh Muhammad Nawawi Bin Umar Al-Jawi Al-Bantani Assyafii

Diterjemahkan oleh :

Zaenal Arifin Yahya

Pembahasan : (ke-165)

ويحرم المس ولو بحائل ولو كان ثخينا حيث يعد ماسا له عرفالأنه يخل بالتعظیم والمراد مسه بأي جزء لا بباطن الكف فقط قال النووي إذا مس المحدث أوالجنب او الحائض أو حمل كتابا من كتب الفقه أو غيره من العلوم فيه آية من القرآن

أو ثوبا مطرزا بالقرآن أو دراهم أو دنانير منقوشة به أو مس الجدار أو الحلو أو الخبز المنقوش فيه فالمذهب الصحيح جواز هذا كله لأنه ليس بمصحف وفيه وجه أنه حرام وقال أقضي القضاة أبو الحسن الماوردي في كتابه الحاوی يجوز مس الثياب المطرزة بالقرآن ولا يجوز لبسها بلا خلاف لأن المقصود بلبسها التبرك بالقرآن

Dan haram memegang [mushhaf] walaupun dengan menggunakan penghalang, walaupun penghalang itu tebal, 

sekiranya hal itu masih diperhitungkan sebagai memegang baginya, menurut keumuman, 

karena sesungguhnya hal itu [wanita haidh memeganf mushaf] dapat merusak terhadap sikap penghormatan [kepada Quran]. 

Dan yang dimaksud adalah orang itu memegangnya dengan organ tubuh mana saja, bukan hanya dengan menggunakan bagian dalam telapak tangan saja. 

Telah berkata Imam An-Nawawiy: 'Apabila orang yang hadats, atau orang junuh atau wanita yang haidh, memegang atau membawa satu kitab dari berbagai kitab fiqh, atau selainnya darl berbagai ilmu-ilmu, dan di dalamnya terdapat satu ayat dari Al-Our'an. 

atau [memegang atau membawa] pakaian yang bersulam dengan AI-qur'an, atau dirham dirham atau dinar-dinar yang berukir dengan AI-Our'an, 

atau memegang tembok atau manisan [permen] atau roti, yang dilukiskan [ALQuran] padanya. 

Maka menurut pendapst yang shahih adalah diperbolehkan hal ini [perbuatan tersebut]] seluruhnya, larena sesungguh-nya benda-benda tersebut bukanlah sebagai mushhaf.

Namun mengenai masalah tersebut ada satu pendapat [yang mengatakan]: "Sesungguhnya perbuatan tersebut diharamkan'." 

Dan telah berkata seorang hakim agung, yaitu Syekh Abul Hasan Al-Mawardiy dl dalam kitab beliau. Al-Hawiy. "Boleh memegang pakaian-pahaian yang disulam [dibordir] dengan Al-Qur 'an, 

Namun tidak boleh makainya tanpa ada porbedaan pendapat ulama, karena sesungguhnya maksud [tujuan] untuk memakainya adalah mencari keberkahan dengan Al-Qur’an tersebut".


Wallohu a'lam bishshowaab...

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post