Ngaji Kitab Aqidatul Awam (8-2)

  قال المؤلف رحمه الله تعالى:
فقدرة إرادة سمع بصر #حياة العلم كلام استمر
"Sifat qudroh, irodah, sama', bashor, ilmu dan kalam"

Penjelasan
 

As Syaikh Ahmad Marzuki melanjutkan penjelasannya tentang sifat ma'aniy, yaitu:
Hayah, artinya Allah itu maha hidup, hidupnya Allah tidak seperti hidupnya makhluk.
Hidupnya Allah azaliyah (tidak berpermulaan) dan abadiyyah (tidak berpenghabisan), berbeda dengan hidupnya makhluk yang haaditsah (berpermulaan).
Hidupnya Allah tidak membutuhkan pada ruh, daging, tulang, darah dan piranti-piranti lainnya. Berbeda dengan hidup makhluk yang bergantung pada ruh, darah, daging, tulang dan piranti-piranti lainnya.
 

Dalil naqli tentang sifat hayah adalah firman Allah ta'ala:
ٱللَّهُ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَیُّ
[Surat Al-Baqarah 255]
"Allah, tidak ada yang disembah dengan benar selain hanya Dia yang maha Hidup".
 

Dalil aqli tentang sifat hayat adalah:
Seandainya Allah tidak memiliki sifat hayah, pastilah Dia tidak memiliki sifat qudroh, iradah dan ilmu.
Karena sesuatu yang tidak hidup seperti batu, pohon dan semacamnya tidak dapat disifati dengan berkuasa (qudroh), berkehendak (iradah) dan mengetahui (Ilmu).
Dan seandainya Allah itu tidak hidup pastilah alam semesta ini tidak ada, namun faktanya alam semesta ini ada dan bisa disaksikan dengan mata.
 

Ilmu, artinya Allah itu maha mengetahui dengan ilmu yang azaliy (tidak berpermulaan) dan abadiy (tidak berpenghabisan), berbeda dengan ilmu makhluk yang haaditsah (berpermulaan dan di dahului oleh kebodohan).
 

Dengan sifat ilmu yang azali dan abadiy, Allah mengetahui segala sesuatu.
Allah mengetahui sesuatu yang telah terjadi
Allah mengetahui sesuatu yang sedang terjadi
Allah mengetahui sesuatu yang akan terjadi
 Allah mengetahui sesuatu yang tidak terjadi, seandainya terjadi, bagaimana terjadinya.
Tidak ada sesuatupun yang samar bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun di langit.
 

Perhatian:
Allah ta'ala mengetahui segala sesuatu itu dengan secara rinci (tafshili), bukan hanya secara global (ijmaaliy), sebagaimana diyakini oleh Mu'tazilah.
 

Dalil naqli tentang sifat ilmu adalah firman Allah ta'ala:
 وَهُوَ بِكُلِّ شَیۡءٍ عَلِیمࣱ
[Surat Al-Baqarah 29]
"Dan Dia (Allah) mengetahui segala sesuatu".
 

Dalil aqli tentang sifat ilmu adalah:
Seandainya Allah tidak memiliki sifat ilmu, pastilah Dia bodoh
Sedangkan bodoh adalah naqsh atau sifat yang tidak layak bagi Allah ta'ala.
Dan seandainya Allah itu bodoh pastilah alam semesta ini tidak ada, karena tidak mungkin alam semesta yang begitu menakjubkan diciptakan oleh Dzat yang bodoh, tetapi faktanya alam semesta itu ada dan bisa disaksikan dengan mata.
 

Kalam, artinya Allah maha berfirman dengan kalam yang azali (tidak berpermulaan) dan abadiy (tidak berpenghabisan), berbeda dengan kalam makhluk-Nya.
Karena itu, Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini bahwa kalam Allah itu bukan bahasa, bukan huruf dan juga bukan suara.
 

Al Imam Abu Hanifah Radliyallahu anhu dalam kitab al Fiqh al Akbar berkata:
والله يتكلم لا بآلة وحرف ونحن نتكلم بآلة وحرف
"Allah berfirman tidak dengan alat dan huruf, sedangkan kita berkata dengan alat dan huruf"
 

Dalil naqli tentang sifat kalam adalah firman Allah ta'ala:
 وَكَلَّمَ ٱللَّهُ مُوسَىٰ تَكۡلِیمࣰا
[Surat An-Nisa' 164]
"Dan benar-benar Allah telah memperdengarkan kalam-Nya kepada nabi Musa"
 

Dalil aqli tentang sifat kalam adalah:
Seandainya Allah tidak memiliki sifat kalam pastilah dia bisu.
Sedangkan bisu adalah naqs atau sifat yang tidak layak bagi Allah ta'ala.



والله أعلم بالصواب

 

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post