Biografi Imam Qiroat Al-Qur'an: 1. IMAM NAFI’ AL MADANI

IMAM NAFI’ AL MADANI

Ialah Nafi’ bin Abdirrohman bin Abi Nu’aim, julukannya Abu Ruwaim.Ada yang mengatakan : Abul Hasan; ada yang mengatakan : Abu Abdirrohman yaitu Tuan Jakwanah dan dia aslinya seorang yang pendek. Orang menamakannya dengan itu meskipun tidak pendek. Jakwanah adalah seorang pemeras susu Sayidina Hamzah bin Abdil Mutholib dan ada yang mengatakan : Seorang pemeras susu Sayidina Abas bin Abdil Mutholib.

Nafi’ adalah salah seorang Qori’ yang tujuh, beliau berwarna hitam legam dan asalnya dari Asbahan, berakhlak baik, berwajah manis dan suka humor. Beliau belajar Qiroatnya dari 70 tabi’in diantaranya ; Abu Ja’far,Syaibah bin Nashah,Muslim bin Jundub, Yazid bin Rouman, Muhammad bin Muslim bin Syihab Azzuhri dan Abdurrohman bin Hurmuz Al A’raj.

Abu Ja’far berguru pada tuannya yaitu Abdullah bin Iyasy bin Abi Rubai’ah Al Mahzumi, pada Abdullah bin Iyasy dan pada Abi Hurairah. Ketiga Imam ini berguru pada Ubay bin Ka’ab. Abu Hurairah dan Ibnu Abbas juga berguru pada Zaid bin Tsabit dan Zaid dan Ubay berguru pada Rosulullah SAW. Syaibah dan Muslim dan Ibnu Rouman berguru pada Abdullah bin Iyasy bin Abu Ruba’iah dan Syaibah mendengarkan Qiro’atnya dari Umar bin Khotob.

Al Zuhri berguru  pada Sa’id Ibnu Al Musayab, Sa’id berguru pada Ibnu Abas dan Abu Hurairah, Al A’raj berguru pada Ibnu Abas, Abu Hurairah dan Abdullah bin Iyasy bin Abi Robi’ah, Ibnu Abi Robi’ah, Ibnu Abas dan Abu Hurairah berguru pada Ubay bin Ka’ab. Ibnu Abas juga berguru pada Zaid bin Tsabit dan Umar, Zaid dan Ubay berguru pada Rosulullah SAW.

Qiro’at Nafi’ ini Mutawatir dan kemutawatirannya ini bukan menunjukkan karena beliau belajarnya dari 70 tabi’in dan ia mutawatir pada semua tingkatan dan tidak boleh dikatakan karena penyandaran pribadi pada seorang sahabat, karena hal yang semacam itu bukan arti penyandaran Qiro’at pada seorang yang tertentu bahwa orang itu tidak dikenal selain Qiro’at ini dan bukanlah Qiro’at ini tidak diriwayatkan dari yang selainnya tetapi yang dimaksud dengan penyandaran Qiro’at adalah kepada seseorang yang jelas bahwa dia adalah sedhobith – dhobithnya manusia ( orang yang paling menguasai dalam Qiro’at ) dan kebanyakan mereka adalah orang yang paling banyak bacaan dan cara membacakannya. Hal semacam ini tidak bisa dikatakan bahwa dia tidak dikenal oleh yang lainnya dan sungguh dia telah meriwayatkannya dari yang lainnya.

Qiro’at Nafi’ periwayatannya dari Rosulullah yaitu oleh para kebanyakan para sahabat. Kalaulah penyandaraan Qiro’at ini hanya kepada sebagian individu dari mereka saja, maka sungguh hal semacam ini tidak bisa dikatakan periwayatan Qiro’at seperti tersebut di atas. Kebanyakan para Tabi’in meriwayatkannya dari sahabat kemudian para Imam meriwayatkannya dari Imam yang lainnya sehingga sampai kepada kita ini dan ketetapan ini sudah dikatakan ( merupakan ketetapan ) pada semua Qiro’at Imam yang sepuluh, maka bukanlah ketetapan ini karena dorongan dari seseorang saja.

Imam nafi’ adalah seorang imam qiro’at pada manusia di madinah selesailah puncak pembacaannya lalu orang mengumpulkan Qiro’at dan memilihnya setelah periode tabi’iin.

Pengkhususan cara membaca dan pengajaranya ini lebih dari 70 ( tujuh puluh) tahun.Dia seorang alim terhadap segi – segi Qiro’at dan mengerti benar terhadap atsar para imam terdahulu di Negerinya. Sa’id bin Mansur berkata : Saya mendengar Malik bin Anas berkata : Qiro’at ahli Madinah terkenal ( terpilih ) ada yang mengatakan : Qiro’at Nafi’ ? Ia menjawab : Ya. Dan diriwayatkan bahwa apabila dia berbicara tertiuplah dari mulutnya bau minyak misik, lalu ada yang mengatakan apakah kau pakai minyak wangi / parfum setiap kali kau duduk dengan membacakan Qiro’at itu pada manusia ? Dia menjawab : Saya tidak pernah mendekat dan menyentuh parfum itu ; tetapi memang saya pernah bermimpi ketika tidur Nabi SAW membacakan Qiro’at itu pada mulutku, maka ketika itulah mulutku tercium bau harum, ada yang mengatakan baiknya muka dan perangaimu, lalu dia menjawab : bagaimana saya tidak menjadi seperti apa yang kamu sebutkan, Rosul telah berjabat tangan dan membacakan Al Qur’an kepadaku ketika tidur.

Dia seorang yang zuhud, baik selalu sholat di Masjid Rosulullah SAW. Selama 60 tahun. Ada yang mengatakan bahwa ketika dia mendekati ajalnya anak – anaknya berkata kepadanya : berilah wasiat daku ! lalu beliau berkata :

Artinya:  “ Bertakwalah kepada Allah, berbuat baiklah sesama  kawanmu dan taatilah Allah dan RosulNya jikalau kamu tergolong orang – orang beriman ”.
       
        Beliau dilahirkan pada batas tahun ke tujuh puluh Hijroh dan wafatnya pada tahun 169 menurut qoul yang benar.

        Golongan – golongan yang tidak terhitung jumlahnya baik dari Madinah, Syam, Mesir dan lainnya dari negara Islam meriwayatkan Qiro’at darinya secara mendengarkan maupun menyorog.

        Di antara orang – orang yang belajar darinya yaitu 2 imam; Malik bin Anas dan Al Laits bin Sa’ad. Dan sebagian mereka Abu Amr bin Al Ala’, Al Musaiba, Isa bin Wirdan, Sulaiman bin Muslim bin Jamaz, Ismail dan Ya’kub anak Ja’far. Para perawi yang paling masyhur dari Qiro’at Nafi’ ada 2 yaitu Qolun dan Warasy. Dan dibawah ini biografi dari kedua perowi tersebut :

QOLUN
        Qolun ialah Isa bin Mainan bin Wardan bin Isa bin Abdul Shamad bin Umar bin Abdullah Al Zarqi Tuan Bani Zahrah dengan gelar Abu Musa dan dijuluki dengan Qolun yaitu seorang Qori’ Madinah dan seluruh pelosoknya. Ada yang mengatakan bahwa beliau adalah anak tiri dari Imam Nafi’, anak istrinya dan beliau telah menetapkannya dengan kemanfaatan yang begitu banyak dan beliaulah yang menjulukinya dengan nama Qolun, karena bagusnya dalam Qiro’at. Qolun adalah bahasa Rum yang artinya bagus, kakeknya adalah Abdullah dari sebahagian Tuan Rum pada masa Kholifah yang kedua yaitu Umar bin Khotob. Beliau menawarkannya kepada orang yang menyenanginya ke Umar di Madinah dan menjualnya, lalu dibelilah oleh sebagian Kaum Anshor yaitu Tun Muhammad bin Muhammad bin Fairuz dari Kaum Anshor.

        Qolun dilahirkan pada tahun ke 120 pada hari Hisyam bin Abdul Mulk. Beliau berguru pada Nafi’ pada tahun 150 pada masa kholifah Al Mansur. Dia berkata : saya berguru pada Nafi’ tidak sekali saja, ada yang mengatakan berapa kali kau berguru pada Nafi’ ? 

Beliau menjawab : Saya sampai tidak bisa menghitungnya, kecuali saya telah bergaul setelah nganggur 20 tahun, Dia berkata : Nafi’ telah bertanya berapa kali kau berguru padaku duduklah sampai ada orang yang diutus untuk berguru kepadamu !
 
        Beliau telah mengambil Qiro’at dari Imam Nafi’ yang mana Imam Nafi’ tersebut telah belajarnya dari Abi Ja’far dan Qiro’at yang telah Imam Nafi’ pilih juga beliau telah menyorog Qiro’at ini kepada Isa bin Wardan.

        Banyak orang telah meriwayatkan Qiro’at darinya, berurutan satu per satu yaitu Imam Ibnu Jazari dalam seluruh tingkatan Qurro. Abu Muhammad Al Bagdadi berkata : Qolun adalah orang yang sangat tuli tidak mendengar bom, tetapi apabila ada orang yang membacakan Al Qur’an kepadanya beliau bisa mendengarnya, yaitu para Qori’ yang membacakannya dan beliau faham benar kesalahan mereka dan membetulkannya dengan memberi contoh / mempraktekkannya. Beliau wafat pada  tahun 220 pada masa Kholifah Ma’mun.

WARASY
Warasy adalah Utsman bin Sa’id bin Abdullah bin Umar bin Sulaiman bin Ibrohim pembantu keluarga Zubair bin Awam, gelarnya Abu Sa’id dan julukannya Warasy. Dilahirkan pada tahun 110 di sebagian Negeri dari dataran Negeri Mesir yang asalnya negeri itu adalah Qoiraman. Beliau pergi ke Imam Nafi’ di Madinah, mentashihkan bacaan Al Qur’an kepadanya beberapa tamatan pada tahun 155. Beliau adalah bule, bermata biru dan berkulit putih serta gemuk , pendek dan berkecukupan ( sedang ). Ada yang mengatakan bahwa Nafi’ menjulukinya dengan Warsyan ( yaitu seekor burung yang menyerupai burung merpati , karena ringan gerakannya dan karena beliau berpakaian yang pendek, lalu berjalan kelihatan kedua kakinya.

Imam Nafi’ berkata ( memanggil ): kesinilah wahai Warsyan, bacalah hai Warsyan dan  dimanakah kau Warsyan ? Kemudian ia meringankan. Ada yang mengatakan ia bukan Warsyan tetapi Warasy. Dan ada yang mengatakan bahwa Warasy adalah sesuatu yang terbuat dari susu dan dijuluki dengan itu karena putihnya. Julukan ini tetap sehingga dia tidak dikenal kecuali dengan nama itu dan tidaklah ada sesuatu yang lebih dicintai darinya; lalu dia berkata : Wahai Guruku namailah aku ini dengan nama Warasy.
Selesailah biografi Qori’ ini di negeri Mesir, pada zamannya tak seorang pun yang berani membantah karena kecerdikannya dalam bahasa Arab, ilmu pengetahuannya tentang tajwid dan beliau adalah seorang yang bersuara dan berqiro’at bagus tidak membosankan bagi yang mendengarnya.
Ada yang mengatakan bahwa beliau telah berguru pada Imam Nafi’ dengan 4 tamatan pada setiap bulan kemudian kembalilah ke Negerinya dan beliau mempunyai pendapat pemikiran sendiri yang berbeda dengan gurunya yaitu Imam Nafi’. Warasy wafat di Mesir pada masa pemerintahan Al Ma’mun pada tahun 197 dari umurnya yang 87 tahun.


____________________
Tarikhul Qurro’ Al Asyroh

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post