Kapabilitas Imam Al-Ghazālī Dalam Ilmu Hadis; Kajian Hadis terhadap Kitab Iḥyā Ulūm al-Dīn Oleh: Dr. Arrazy Hasyim, MA #Kajian-Ihya bagian 3

#KajianIhya Bagian ke-3:
Sekilas tentang Kitab Iḥyā Ulum al-Din
Kitab Iḥyā termasuk kitab terakhir dikarang oleh Hujjat al-Islām al-Ghazālī. Sesuai dengan arti dari judulnya, kitab Iḥyā ditulis dengan tujuan menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama dianggapnya sudah terkubur. Oleh karena itu, wajar jika kitab tersebut banyak mencakup berbagai disiplin ilmu agama, khususnya yang membawa kebahagian di akhirat.
Berdasarkan penuturannya, al-Ghazālī menerangkan di awal kitab bahwa Iḥyā terdiri dari empat rubu, pertama rubu al-ibādat, kedua rubu al-ādat, ketiga rubu al-muhlikāt, dan keempat rubu al-munjiyāt.
Adapun rubu ibadat merupakan pembahasan mengenai pengantar mengenai ilmu secara sistematis dan sederhana, ilmu Tauhid secara mendalam, dan rahasia-rahasia ibadah lengkap dengan sudut pandang fiqih. Pada rubu ini tercakup sepuluh pembahasan, yaitu Kitāb al-Ilm, Qawāid al-Aqāid, Asrār al-Thahārah, Asrār al-Shalah, Asrār al-Zakāh, Asrār al-Shiyām, Asrār al-Ḥajj, Tilāwat al-Qurān, al-Adzkār wa al-Daāwāt, dan Tartīb al-Awrād.

Pada rubu al-Ādāt, al-Ghazālī membicarakan mengenai adab-adab sehari-hari sampai kepada adab kenabian. Sebagaimana sebelumnya, pada rubu kedua juga tercakup sepuluh pembahasan, yaitu Kitab Adāb al-Akl, Adāb al-Nikāḥ, Adāb al-Samā, Adāb al-Kasb, al-Ḥalāl wa al-Harām, Adāb al-Shuḥbah, al-Uzlah, Adab al-Safar, Adab al-Samā wa al-Wajd, al-Amr bi al-Marūf wa al-Nahy an al-Munkar, dan Akhlāq al-Nubuwwah.
Pada rubu al-Muhlikāt, al-Ghazālī mulai menyentuh sisi spritual dengan membahas keajaiban hati, metode riyādhah (latihan spritual), serta pengkajian terhadap penyakit-penyakit spritual sesuai dengan al-Qur'an. Pada rubu ketiga ini, al-Ghazālī juga mengemukakan sepuluh pembahasan, yaitu Kitab Syarḥ Ajāib al-Qalb, Riyādhat al-Nafs, Āfāt al-Syahwatayn, Āfāt al-Lisan, Āfāt al-Ghadhb wa al-Hiqd wa al-Ḥasd, Dzam al-Dunyā, Dzam al-Māl wa al-Nakhl, Dzam al-Jāh wa al-Riyā, al-Kibr wa al-Ujub, dan al-Ghurūr.
Kemudian pada rubu al-Munjiyāt, al-Ghazālī membicarakan maqāmat dan aḥwāl para sufi sesuai dengan keterangan-keterangan yang bersifat syari dan aqli. Pada rubu keempat ini, juga terdapat sepuluh pembahasan yaitu Kitāb al-Tawbah, al-Shabr wa al-Syukr, al-Khawf wa al-Rajā, al-Faqr wa al-Zuhd, al-Tawḥīd wa Tawakkul, al-Maḥabbah wa al-Syawq wa al-Ridhá, al-Niyyah wa al-Shidq, wa al-Ikhlāsh, al-Murāqabah wa al-Muḥāsabah, al-Tafakkur, dan Dzikr al-Mawt.
Adapun motivasi al-Ghazālī menulis kitab Iḥyā dengan sistematika seperti di atas dikarenakan dua hal -sebagaimana ia ungkapkan sendiri-. Pertama, sistematika dan kajian demikian merupakan sesuatu yang dharuri (penting). Ini dikarenakan ilmu yang bisa mengantarkan kepada pengetahuan tentang akhirat ada dua, yaitu ilmu muāmalah dan mukāsyafah. Al-Ghazālī menegaskan bahwa kitabnya tersebut hanya bertujuan menyajikan ilmu muāmalah agar mudah dipraktekkan secara langsung. Adapun, ilmu mukāsyafah hanya dibicarakan melalui simbolik dan isyarat saja, karena para Nabi juga tidak membicarakannya secara eksplisit. Namun terdapat korelasi antara dua ilmu ini, karena ilmu muāmalah akan mengantarkan dan membuka khazanah ilmu mukāsyafah.
Motivasi kedua, keinginan al-Ghazālī mengobati “penyakit spiritual” dan membimbing para penuntut ilmu Fiqih. Ini dikarenakan kebanyakan mereka cenderung kepada hasrat duniawi seperti suka pamer dan mencari kepopuleran. Dengan sistematika di atas terutama pada rubu al-Ibādah yang banyak menyentuh dunia fiqih, maka pengajaran spritual dapat mereka serap secara bertahap.
Ikhtishar Kitab Iḥyā
Ilmuwan pertama yang melakukan ikhtishar terhadap Iḥyā adalah saudaranya sendiri Abū al-Futūḥ Aḥmad al-Ghazālī (520 H.). Abū al-Futūḥ memberi judulnya dengan Lubab Iḥyā. Setelah itu, langkah ini diikuti oleh Aḥmad bin Mūsá al-Mawshūlī (622 H.). Begitu juga diteruskan oleh Muḥammad bin Saīd al-Yamanī, Muḥammad bin Umar al-Balkhī, Abd al-Khatīb al-Marāghī ketika berada di Bayt al-Muqdis, Muḥammad bin Ali al-Ajlūnī yang masyhur dengan nama al-Hilālī, al-Suyūthī (911 H.) dan lainnya.


______________________________________________
Sumber : https://www.facebook.com/RibathNouraniyah/

>>>bersambung ke bagian 4<<<

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post